Kelompok ADHD cenderung menunjukkan memori kerja yang lebih rendah
ADHD memiliki hubungan yang jelas dengan memori kerja. Memori kerja adalah kemampuan mempertahankan informasi untuk waktu singkat sambil menggunakan informasi tersebut untuk melanjutkan proses berikutnya. Berbagai penelitian berulang kali menemukan bahwa kelompok anak maupun dewasa dengan ADHD cenderung memperoleh hasil lebih rendah pada tugas memori kerja.
Sebuah meta-analisis terhadap 38 penelitian orang dewasa menemukan perbedaan sedang antara kelompok ADHD dan kelompok pembanding pada memori kerja verbal maupun visuospasial. Meta-analisis lain yang mencakup 4.956 anak dan remaja dari 49 penelitian juga menemukan perbedaan sedang pada memori kerja verbal (meta-analisis anak dan remaja).
Perbedaan yang terlihat pada WMI dalam WAIS atau WISC cenderung lebih kecil daripada perbedaan pada tugas memori kerja eksperimental. Dalam hasil gabungan terbaru, rata-rata WMI kelompok ADHD dewasa adalah 95,2 dan rata-rata kelompok anak adalah 93,7; keduanya masih berada dalam rentang rata-rata. Dengan demikian, jawaban atas hubungan ADHD dan WMI adalah: kelompok ADHD cenderung memiliki memori kerja yang lebih rendah, tetapi WMI seorang individu tetap dapat berada pada atau di atas rata-rata. Hasil WISC dalam penelitian tersebut merupakan bukti lintas negara dan tidak berarti WISC versi Indonesia tersedia. Kecenderungan seluruh indeks dibahas dalam pola IQ dan WAIS pada ADHD.
Hal yang mudah terlihat dalam kehidupan sehari-hari bukan hilangnya pengetahuan yang sudah lama dikuasai. Bagian yang terlewat lebih sering berupa hal yang akan dilakukan, instruksi yang baru saja didengar, atau angka yang sedang digunakan—yaitu saat seseorang harus mempertahankan informasi yang sedang dipakai sambil melanjutkan ke langkah berikutnya. Definisi kemampuan ini dijelaskan dalam apa itu memori kerja (Gwm/WMI).
Ketika perhatian teralihkan, kembali ke tujuan awal menjadi lebih sulit
Saat bekerja, memori kerja mempertahankan informasi singkat tentang status pekerjaan: “untuk apa saya melakukan ini”, “sampai di mana sudah selesai”, dan “apa langkah berikutnya”.
Ketika perhatian berpindah ke notifikasi, suara, pekerjaan lain yang terlihat, atau pikiran yang tiba-tiba muncul, proses mempertahankan keadaan kerja semula ikut terputus. Setelah pekerjaan lain selesai, seseorang harus melihat kembali layar atau materi dan membangun ulang “apa yang tadi sedang dikerjakan” jika tujuan dan kemajuan sebelumnya tidak segera muncul kembali.
Karena itu, perhatian yang mudah teralih pada ADHD tidak hanya menambah waktu ketika konsentrasi terputus, tetapi juga memperbesar biaya untuk memulai kembali setiap kali alur terputus. Bentuknya dapat berupa membaca ulang materi berkali-kali setelah membalas pesan singkat, membuka tab lain lalu tidak kembali ke pekerjaan semula, atau memeriksa dari awal karena tidak mengetahui titik untuk melanjutkan.
Semakin tinggi beban memori kerja, semakin mudah perhatian ikut terganggu. Jika interupsi terjadi ketika beberapa kondisi sedang dipertahankan di dalam kepala, seseorang bukan hanya perlu mengembalikan perhatian, tetapi juga menyusun kembali kondisi dan kemajuan pekerjaan.
Mengapa instruksi terlewat, barang tertinggal, dan pekerjaan dibiarkan setengah selesai
Keadaan “mudah lupa” pada ADHD dapat dibagi menjadi tiga jenis berdasarkan informasi yang terlewat.
| Informasi yang terlewat | Situasi yang sering memunculkannya | Hal yang terjadi |
|---|---|---|
| Informasi yang baru diterima | Beberapa instruksi, percakapan, dan hitung mental | Bagian awal tidak dapat dipertahankan ketika mendengarkan bagian berikutnya atau memikirkan jawaban |
| Tujuan yang terinterupsi | Notifikasi, pekerjaan lain, dan beberapa tugas | Tujuan awal, titik selesai, dan langkah berikutnya tidak dapat dipulihkan saat memulai kembali |
| Rencana untuk masa mendatang | Barang bawaan, pesan, penyerahan, dan janji | Niat untuk “melakukannya nanti” tidak muncul kembali pada waktu atau tempat yang tepat |
Sebuah penelitian langsung terhadap anak dengan ADHD memeriksa kemampuan mengikuti beberapa instruksi. Kelompok ADHD lebih sulit mengingat dan menjalankan instruksi bertahap. Pada kedua kelompok, hasil membaik ketika penjelasan lisan disertai demonstrasi dan ketika anak benar-benar melakukan tindakan, bukan sekadar mengulang instruksi dengan kata-kata (penelitian tentang memori instruksi). Membagi instruksi menjadi bagian singkat serta mengonfirmasinya melalui tulisan atau tindakan langsung mengurangi jumlah informasi yang harus dipertahankan.
Kemampuan mengingat hal yang perlu dilakukan pada waktu yang tepat disebut memori prospektif. Dalam penelitian anak dengan ADHD, kegagalan lebih sering terjadi pada rencana yang mengharuskan anak memeriksa jam dan bertindak pada waktu yang ditentukan sendiri daripada pada rencana yang dipicu oleh peristiwa yang terlihat jelas (tinjauan memori prospektif). Barang tertinggal bukan berarti keberadaan barang tersebut dilupakan, tetapi dapat terjadi karena niat “masukkan ke tas sebelum berangkat” tidak muncul kembali saat waktunya berangkat.
Menampilkan tujuan, posisi pekerjaan, dan tindakan berikutnya pada waktu dan tempat yang tepat
Strategi utamanya adalah memindahkan bukan hanya jadwal, tetapi juga informasi yang diperlukan untuk melanjutkan pekerjaan ke luar kepala.
| Situasi yang meningkatkan beban | Cara menempatkan informasi di luar kepala |
|---|---|
| Beberapa instruksi lisan | Terima permintaan, kondisi, dan tenggat dalam bentuk tulisan, lalu bagi menjadi satuan yang dikerjakan satu per satu |
| Interupsi saat bekerja | Sebelum berpindah, tinggalkan satu baris berisi tujuan, titik selesai, dan tindakan berikutnya |
| Rencana yang dilakukan nanti | Atur notifikasi pada waktu dan tempat ketika tindakan dapat dilakukan, lalu tuliskan satu tindakan konkret seperti “kirim materi” |
| Barang bawaan | Tetapkan satu tempat penyimpanan dan letakkan barang pada jalur yang pasti dilewati saat berangkat |
| Beberapa pekerjaan | Gunakan satu tempat untuk daftar kerja dan tampilkan status sedang dikerjakan, menunggu, serta selesai |
Catatan “penawaran harga” saja masih mengharuskan seseorang menyusun ulang konteks ketika melanjutkan pekerjaan. Catatan “kolom jumlah pada penawaran sudah selesai; berikutnya salin baris ketiga dari daftar harga” memungkinkan pekerjaan langsung dilanjutkan dari kalimat tersebut.
Atur notifikasi agar muncul ketika tindakan benar-benar dapat dilakukan, bukan saat rencana pertama kali dibuat. Dibandingkan notifikasi berupa kata benda seperti “besok, dokumen”, instruksi “masukkan amplop di dekat pintu ke dalam tas” yang menyebutkan tempat dan satu tindakan akan lebih mudah langsung dijalankan.
Pedoman ADHD NICE juga menyebutkan penulisan permintaan yang semula disampaikan secara lisan, pengurangan rangsangan pengganggu, periode fokus singkat, dan pengingat visual sebagai penyesuaian lingkungan. Tujuan eksternalisasi bukan memperkuat memori kerja itu sendiri, melainkan mengurangi jumlah yang perlu dipertahankan dan memungkinkan tujuan dipulihkan dari lingkungan ketika sempat terlewat.
Menambah terlalu banyak catatan dan aplikasi justru menciptakan beban baru untuk mengingat “di mana saya harus melihat”. Tetapkan hanya beberapa tempat untuk kembali, misalnya kalender untuk jadwal, satu daftar untuk pekerjaan, dan satu lokasi tetap untuk barang. Strategi umum yang tidak bergantung pada diagnosis dibahas dalam ciri dan strategi untuk memori kerja rendah.
Kecenderungan kelompok tidak menentukan diagnosis individu. Jika diagnosis atau keputusan klinis diperlukan, pola ini perlu dinilai bersama wawancara, riwayat perkembangan, perilaku sehari-hari, dan evaluasi oleh tenaga profesional yang berkualifikasi.